13ahar anakbatak yang ingin mengenal dan berbagi kepada dunia

lagu anak batak kali ini

Kamis, 25 Februari 2010

. . . .

Ga' tau kenapa, pengen aja rasanya ngeposting. Secara dah lama ga'. Eh, sekalinya mau ngeposting malah buntu. Planning sih banyak, tapi masih ngegantung semua. Malahan ada sebagian masih judulnya doank tanpa isi. Yaudah deh jadi aja ngeposting tentang stres. Mungkin itu aku kini. Mungkin itu kau kini. Ni postingan aku ambil disini; http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/stres.html. Nikmatilah.

Stres PDF Print E-mail
Written by Reina Wangsadjaja, S, Psi

Seringkali stres didefinisikan dengan hanya melihat dari stimulus atau respon yang dialami seseorang. Definisi stres dari stimulus terfokus pada kejadian di lingkungan seperti misalnya bencana alam, kondisi berbahaya, penyakit, atau berhenti dari kerja. Definisi ini menyangkut asumsi bahwa situasi demikian memang sangat menekan tapi tidak memperhatikan perbedaan individual dalam mengevaluasi kejadian. Sedangkan definisi stres dari respon mengacu pada keadaan stres, reaksi seseorang terhadap stres, atau berada dalam keadaan di bawah stres (Lazarus & Folkman, 1984).

Definisi stres dengan hanya melihat dari stimulus yang dialami seseorang, memiliki keterbatasan karena tidak memperhatikan adanya perbedaan individual yang mempengaruhi asumsi mengenai stresor. Sedangkan jika stres didefinisikan dari respon, maka tidak ada cara yang sistematis untuk mengenali mana yang akan jadi stresor dan mana yang tidak. Untuk mengenalinya, perlu dilihat terlebih dahulu reaksi yang terjadi. Selain itu, banyak respon dapat mengindikasikan stres psikologis yang padahal sebenarnya bukan merupakan stres psikologis. Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa respon tidak dapat secara reliabel dinilai sebagai reaksi stres psikologis tanpa adanya referensi dari stimulus (Lazarus & Folkman, 1984).

Singkatnya, semua pendekatan stimulus-respon mengacu pada pertanyaan krusial mengenai stimulus yang menghasilkan respon stres tertentu dan respon yang mengindikasikan stresor tertentu. Yang mendefinisikan stres adalah hubungan stimulus-respon yang diobservasi, bukan stimulus atau respon. Stimulus merupakan suatu stresor bila stimulus tersebut menghasilkan respon yang penuh tekanan, dan respon dikatakan penuh tekanan bila respon tersebut dihasilkan oleh tuntutan, deraan, ancaman atau beban. Oleh karena itu, stres merupakan hubungan antara individu dengan lingkungan yang oleh individu dinilai membebani atau melebihi kekuatannya dan mengancam kesehatannya (Lazarus & Folkman, 1984).

Proses Pengalaman Stres
Stres merupakan persepsi yang dinilai seseorang dari sebuah situasi atau peristiwa. Sebuah situasi yang sama dapat dinilai positif, netral atau negatif oleh orang yang berbeda. Penilaian ini bersifat subjektif pada setiap orang. Oleh karena itu, seseorang dapat merasa lebih stres daripada yang lainnya walaupun mengalami kejadian yang sama. Selain itu, semakin banyak kejadian yang dinilai sebagai stresoroleh seseorang, maka semakin besar kemungkinan seseorang mengalami stres yang lebih berat.

Perbedaan tingkat perkembangan antara anak-anak dengan orang dewasa tidak membuat perbedaan besar dalam hal pembentukan persepsi manusia. Teori appraisal dari Lazarus sudah diaplikasikan dalam penelitian terhadap anak. Salah satu penelitian yang dimaksud adalah penelitian oleh Johnson dan Bradlyn (dalam Wolchik & Sandler, 1997), yang ditujukan untuk meneliti appraisal positif dan negatif terhadap suatu peristiwa serta seberapa besar pengaruh peristiwa tersebut terhadap seorang anak.

Menurut Lazarus (1991) dalam melakukan penilaian tersebut ada dua tahap yang harus dilalui, yaitu :

1. Primary appraisal
Primary appraisal merupakan proses penentuan makna dari suatu peristiwa yang dialami individu. Peristiwa tersebut dapat dipersepsikan positif, netral, atau negatif oleh individu. Peristiwa yang dinilai negatif kemudian dicari kemungkinan adanya harm, threat, atau challenge. Harm adalah penilaian mengenai bahaya yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Threat adalah penilaian mengenai kemungkinan buruk atau ancaman yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Challenge merupakan tantangan akan kesanggupan untuk mengatasi dan mendapatkan keuntungan dari peristiwa yang terjadi (Lazarus dalam Taylor, 1991). Pentingnya primary appraisal digambarkan dalam suatu studi klasik mengenai stres oleh Speisman, Lazarus, Mordkoff, dan Davidson (dalam Taylor, 1991). Studi ini menunjukkan bahwa stres bergantung pada bagaimana seseorang menilai suatu peristiwa.

Primary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu:

  1. Goal relevance; yaitu penilaian yang mengacu pada tujuan yang dimiliki seseorang, yaitu bagaimana hubungan peristiwa yang terjadi dengan tujuan personalnya.
  2. Goal congruence or incongruenc; yaitu penilaian yang mengacu pada apakah hubungan antara peristiwa di lingkungan dan individu tersebut konsisten dengan keinginan individu atau tidak, dan apakah hal tersebut menghalangi atau memfasilitasi tujuan personalnya. Jika hal tersebut menghalanginya, maka disebut sebagai goal incongruence, dan sebaliknya jika hal tersebut memfasilitasinya, maka disebut sebagai goal congruence.
  3. Type of ego involvement; yaitu penilaian yang mengacu pada berbagai macam aspek dari identitas ego atau komitmen seseorang.

2. Secondary appraisal

Secondary appraisal merupakan penilaian mengenai kemampuan individu melakukan coping, beserta sumber daya yang dimilikinya, dan apakah individu cukup mampu menghadapi harm, threat, dan challenge dalam peristiwa yang terjadi.
Secondary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu:

  1. Blame and credit: penilaian mengenai siapa yang bertanggung jawab atas situasi menekan yang terjadi atas diri individu.
  2. Coping-potential: penilaian mengenai bagaimana individu dapat mengatasi situasi menekan atau mengaktualisasi komitmen pribadinya.
  3. Future expectancy: penilaian mengenai apakah untuk alasan tertentu individu mungkin berubah secara psikologis untuk menjadi lebih baik atau buruk.

Pengalaman subjektif akan stres merupakan keseimbangan antara primary dan secondary appraisal. Ketika harm dan threat yang ada cukup besar, sedangkan kemampuan untuk melakukan coping tidak memadai, stres yang besar akan dirasakan oleh individu. Sebaliknya, ketika kemampuan coping besar, stres dapat diminimalkan.

Respon Stres
Taylor (1991) menyatakan, stres dapat menghasilkan berbagai respon. Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu:

    1. Respon fisiologis; dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan.
    2. Respon kognitif; dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif individu, seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.
    3. Respon emosi; dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan sebagainya.
    4. Respon tingkah laku; dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang menekan, dan flight, yaitu menghindari situasi yang menekan.

COPING STRES
Proses Coping Stres
Stres yang muncul pada anak akan membuat anak melakukan suatu coping (Mu’tadin, 2002). Coping adalah suatu tindakan merubah kognitif secara konstan dan merupakan suatu usaha tingkah laku untuk mengatasi tuntutan internal atau eksternal yang dinilai membebani atau melebihi sumber daya yang dimiliki individu. Coping yang dilakukan ini berbeda dengan perilaku adaptif otomatis, karena coping membutuhkan suatu usaha, yang mana hal tersebut akan menjadi perilaku otomatis lewat proses belajar. Coping dipandang sebagai suatu usaha untuk menguasai situasi tertekan, tanpa memperhatikan akibat dari tekanan tersebut. Namun coping bukan merupakan suatu usaha untuk menguasai seluruh situasi menekan, karena tidak semua situasi tersebut dapat benar-benar dikuasai. Maka, coping yang efektif untuk dilakukan adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (Lazarus & Folkman, 1984).

Menurut Lazarus & Folkman (1984), dalam melakukan coping, ada dua strategi yang dibedakan menjadi :

1. Problem-focused coping
Problem-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan.

2. Emotion-focused coping.
Emotion-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan.

Individu cenderung untuk menggunakan problem-focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung menggunakan emotion focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit untuk dikontrol (Lazarus & Folkman, 1984). Terkadang individu dapat menggunakan kedua strategi tersebut secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping pasti digunakan oleh individu (Taylor, 1991). Para peneliti menemukan bahwa penggunaan strategi emotion focused coping oleh anak-anak secara umum meningkat seiring bertambahnya usia mereka (Band & Weisz, Compas et al., dalam Wolchik & Sandler, 1997).

Suatu studi dilakukan oleh Folkman et al. (dalam Taylor, 1991) mengenai kemungkinan variasi dari kedua strategi terdahulu, yaitu problem-focused coping dan emotion focused coping. Hasil studi tersebut menunjukkan adanya delapan strategi coping yang muncul, yaitu :

Problem-focused coping

    1. Confrontative coping; usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan resiko.
    2. Seeking social support; yaitu usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari orang lain.
    3. Planful problem solving; usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang hati-hati, bertahap, dan analitis.

Emotion focused coping

    1. Self-control; usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan.
    2. Distancing; usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau menciptakan pandangan-pandangan yang positif, seperti menganggap masalah sebagai lelucon.
    3. Positive reappraisal; usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan terfokus pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religius.
    4. Accepting responsibility; usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya, dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Strategi ini baik, terlebih bila masalah terjadi karena pikiran dan tindakannya sendiri. Namun strategi ini menjadi tidak baik bila individu tidak seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut.
    5. Escape/avoidance; usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum, merokok, atau menggunakan obat-obatan.

Coping Outcome
Lazarus dan Folkman (1984) menyatakan, coping yang efektif adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan, serta tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya. Sesuai dengan pernyataan tersebut, Cohen dan Lazarus (dalam Taylor, 1991) mengemukakan, agar coping dilakukan dengan efektif, maka strategi coping perlu mengacu pada lima fungsi tugas coping yang dikenal dengan istilah coping task, yaitu :

  1. Mengurangi kondisi lingkungan yang berbahaya dan meningkatkan prospek untuk memperbaikinya
  2. Mentoleransi atau menyesuaikan diri dengan kenyataan yang negatif.
  3. Mempertahankan gambaran diri yang positif.
  4. Mempertahankan keseimbangan emosional.
  5. Melanjutkan kepuasan terhadap hubungannya dengan orang lain.

Menurut Taylor (1991), efektivitas coping tergantung dari keberhasilan pemenuhan coping task. Individu tidak harus memenuhi semua coping task untuk dinyatakan berhasil melakukan coping dengan baik. Setelah coping dapat memenuhi sebagian atau semua fungsi tugas tersebut, maka dapat terlihat bagaimana coping outcome yang dialami tiap individu. Coping outcome adalah kriteria hasil coping untuk menentukan keberhasilan coping. Coping outcome, yaitu :

  1. Ukuran fungsi fisiologis, yaitu coping dinyatakan berhasil bila coping yang dilakukan dapat mengurangi indikator dan arousal stres seperti menurunnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan.
  2. Apakah individu dapat kembali pada keadaan seperti sebelum ia mengalami stres, dan seberapa cepat ia dapat kembali. Coping dinyatakan berhasil bila coping yang dilakukan dapat membawa individu kembali pada keadaan seperti sebelum individu mengalami stres.
  3. Efektivitas dalam mengurangi psychological distress. Coping dinyatakan berhasil jika coping tersebut dapat mengurangi rasa cemas dan depresi pada individu.

Kamis, 28 Januari 2010

Dan Metal Itu Pun Mewabah

Sumpah, Sob, akhir-akhir ni aku lagi metal abis. Melow total. Ga tau kenapa. Salah satu 'barbut-nya', aku lagi suka-sukanya ma lagu lama milik Nora yang judulnya Dipersimpangan Dilema. Gila ga' tuh?! Ngakunya aja musiknya punk. Tapi keiknya ga' da salahnya juga 'kan? Toh pencinta punk 'kan tetep aja manusia. Dibalik kerasnya seorang lelaki tetap ada seorang wanita hebat dibelakangnya. Betul ga' ya pepatahnya. Atau itu bukan pepatah. Ah, aku ga' tau pasti. Suer.

Dan aku cuti lagi. Tengs Wak. Itu bos aku. Udah ngucapin langsung sih tadi ke dia. Dan semoga cuti kali ini benar-benar bisa kunikmati.

Dan mesinku; nantikan aku kembali di Sabtu esok.

Dan untuk kalian, Sob; masih belum bisa mengerti dan menikmati tulisanku? Cobalah dulu. Ok coy????

Good Luck!!!! 13,

Senin, 25 Januari 2010

Terima Kasih Dan Ma'af

Hari ini Senin. Dan aku masih belum juga membencinya. Ga' tau kenapa kok ada gitu orang-orang yang benci sampe' (atau mungkin juga ga' sampe') segitu-gitunya ma hari senin. Ya, terserah mereka juga sih. Toh, itu hak setiap orang dan hak ku juga untuk tak membahasnya panjang-panjang lebar-lebar. Terlebih, ada yang jauh lebih urgent, Sob. Penting! Ya, aku merasa penting aja untuk aku tulis.

Sebelumnya makasih buat Lina (http://wanodyayu.blogspot.com) dan Devi (http://thismy1stblog.blogspot.com) yang udah sudi berbagi award yang mereka dapetin ke aku. Wauw, betapa baiknya kalian. Aku jadi tersanjung6. Tapi ma'af ya, ga' bisa aku pajang dan aku penuhi apa yang kalian kasih ke aku itu. Ga' tau pasti kenapa, cuman, aku ngerasa belum pantas aja dapetin award. Terlebih masih baru lagi. Dan terlebih lagi award kok keroyokan? Aku ngerasa award itu seharusnya diberikan kepada yang terbaik dan ga' lebih dari satu. Mungkin aku egois. Mungkin aku keras kepala (mang ada kepala yang lembek?). Dan mungkin inilah aku. Dan akan selalu tetap; makasih buat kalian berdua.

Keiknya ini semua efek dari kekalahan Arsenal tadi malam nih. Ente juga sih, Prof. Arsene Wenger. Kenapa nurunin lapis kedua? Demi tropi BPL? Awas aja kalo sampe' itu juga ga' dapet. Sial total deh kita.

KACAU!!!! Aku akhirin aja deh ya, Sob.

Kamis, 21 Januari 2010

Lalu

Lalu hari itu Senin
dan aku suka walau hanya sedikit

Lalu aku mempertanyakan masih haruskah kupertahankan HSTMW?
dan belum kudapati jawabnya

Lalu kembali ku ke khayalku
dan masih tentang bibir tipis-kecilnya

Lalu kalian bertanya apa makna tulisan ini?
"Ma'af Sobat, aku pun tak tahu pasti"

Sabtu, 16 Januari 2010

Cuti

Hari ini ceritanya aku cuti, Sob. Ini pertama kali. Seru dan semoga kunikmati. Terlebih untuk ngedapetin ni cuti harus bercampur antara rasa segan plus sedikit gila. Segan karna ga enak ma bos yang keliatan keik ga ikhlas gitu (semoga cuman perasaan aku aja). Gila karna alasan buat aku cuti kali ini bersumber dari bos aku itu. Dan alasannya itu, Sob; pergi ambil barang pos dari kampung. Aku sempet ngajuin alasan temen waktu dia kemaren ambil cuti; badan kurang sehat. Tapi bos aku itu langsung bilang, "Jangan, jangan!" Padahal yang sebenarnya aku lagi pengen malas-malasan aja. Ya ginilah; menikmati hidup dengan membunuh waktu di Internet.

Dan karna ini malam minggu, itu artinya malamnya nonton bola. Selamat menikmati malam minggumu Sobat. Selamat menikmati cutimu Sobat. Selamat menikmati nonton bola untukku. Dan selamat menikmati ketidakpastian akan HSTMW untukku.

Minggu, 10 Januari 2010

Kerja Dan Kerja

Gilaaaaaaaa! Ni hari minggu 'kan, Sob? Parahnya aku kerja. SUCK! Jujur, sebenarnya aku pengen istirahat sejenak, tapi entah kenapa rasa yang kuat untuk ngumpulin uang dulu (yang jumlahnya ga perlulah aku sebutin) yang udah aku targetin jauh-jauh hari, membuat aku memaksakan diri untuk kerja terus sampai tu target tercapai. Terlebih sekarang hari minggu dan itu artinya lembur. Gajinya dobel, Sob. Ga pa-pa deh capek dikit.

Dan Arsenal hanya seri dengan Everton. Oh, tak bisa kuterima. Sungguh tak bisa kuterima. Bukan karna aku kalah taruhan, Sob, tapi secara gitu, ini waktu yang tepat buat The Young Guns-nya Arsene Wenger nih buat ngedeketin Chelsea dan MU kalau saja seandainya menang. Untungnya MU juga seri. Fiuhhhhhhhhhhhh.

Dan HSTMW? Kini dipertanyakan.

Segini dulu deh, Sob. Mau nyoba tidur lagi nih. Lumayan masih ada beberapa jam buat modal kerja entar malam.

Minggu, 03 Januari 2010

Di Akhir Dan Awal

Yap, ni pengalaman di akhir tahun 2009 dan diawal tahun 2010. Kali ini aku berbagi 2 pengalaman nih, Sob. Yang pertama sih pengalamannya kawan aku, cuman dikarnakan saat itu dia ada bersamaku, maka akulah yang berbagi kepada kalian. Coba kalau dia saat itu ada bersama kalian, sudah pasti kalian yang akan berbagi kepadaku. Ah, beruntungnya aku.

Kalau menurut aku sih, pengalamannya kawan aku nih lucu. Ga' tau deh menurut kalian. Jadi, menurut kawan aku tuh; Makan Ga' Enak Itu Ga' Kenyang. Gila ga' tuh?! Aku aja sampe sekarang kalau ingat kata-kata tu anak masih suka ketawa-ketawa sendiri. Padahal kemaren tu anak cerita tepat sehabis dia baru selesai makan. Memang sih, yang dia makan cuman nasi+mie instant+telor dadar doank. Ga' enak dan beceritalah dia tentang pengalamannya yang menurut aku setelah dipikir dengan tidak secara seksama dan dalam tempo selama-lamanya, betul juga sih. Oiya, nama tu anak Miko.

Sedangkan pengalaman pribadi aku sendiri diawal tahun 2010 ini, tepat diawal tahun, adalah; 1st pergi kerja ga' mandi. Keikmana mau mandi coba, bangun total aja udah jam 05:54. Padahal udah jelas-jelas aku matiin alarm handphone aku yang nurut bunyi pukul05:27. Cuman, dikarnakan ni kepala masih lengket ma bantal, jadi deh bobok lagi. Dan untungnya Agus masih baik mau bangunin. Ah, pertanda sialkah ini? Tak taulah. Aku hanya ingin menikmatinya saja.

Salam HSTMW dan Nikmatilah Tahun Barumu Kawan.